05 Juni 2026

Jejak Dana, Kampus, dan Pertarungan Narasi: Membaca Ulang Isu Muslim Brotherhood di Barat


 Dalam beberapa tahun terakhir, perdebatan tentang antisemitisme, gerakan pro-Palestina, pengaruh asing, dan kebebasan akademik di kampus-kampus Barat semakin menguat. Salah satu suara yang paling keras mengangkat isu ini adalah Dr. Charles Asher Small, pendiri Institute for the Study of Global Antisemitism and Policy atau ISGAP. Dalam sebuah wawancara bersama HonestReporting, Dr. Small menjelaskan hasil penelitiannya selama lebih dari dua dekade tentang dugaan aliran dana asing, terutama dari Qatar, ke lembaga-lembaga pendidikan di Amerika Serikat dan negara Barat lainnya.

Menurut Dr. Small, isu ini tidak dapat dipahami hanya sebagai konflik politik antara Israel dan Palestina. Ia melihatnya sebagai bagian dari pertarungan ideologi yang lebih luas, yaitu bagaimana gagasan tertentu masuk ke ruang akademik, membentuk cara berpikir mahasiswa, lalu menyebar ke masyarakat umum.

Dari Kampus ke Ruang Publik

Dr. Small berpendapat bahwa universitas bukan sekadar tempat belajar. Kampus adalah ruang pembentukan gagasan, nilai, dan cara pandang generasi muda. Apa yang diajarkan di ruang kuliah, menurutnya, dapat memengaruhi cara mahasiswa memahami sejarah, politik, identitas, dan konflik global.

Ia mencontohkan bagaimana gagasan yang awalnya berkembang dalam lingkungan akademik bisa turun ke masyarakat luas. Dalam sejarah Eropa, gagasan rasisme dan superioritas ras yang pernah diajarkan atau dibenarkan oleh sebagian kalangan akademik turut membentuk iklim intelektual yang kemudian memberi jalan bagi tragedi besar seperti Holocaust. Karena itu, menurut Dr. Small, gagasan yang beredar di kampus perlu diperhatikan dengan serius.

Dalam konteks saat ini, ia menilai bahwa sebagian narasi tentang Israel dan Yahudi di kampus Barat telah berubah menjadi sangat negatif. Israel sering digambarkan semata-mata sebagai negara kolonial, apartheid, atau penindas. Bila suatu bangsa terus-menerus digambarkan sebagai kejahatan moral, maka dukungan terhadap bangsa itu juga dapat ikut dianggap sebagai sesuatu yang harus dilawan.

Tuduhan Pengaruh Dana Qatar

Salah satu bagian paling menonjol dari wawancara ini adalah klaim Dr. Small tentang besarnya dana asing yang masuk ke universitas-universitas Amerika. Ia menyebut bahwa proyek “Follow the Money” yang dilakukan ISGAP menemukan dugaan dana tidak terdokumentasi dalam jumlah sangat besar, termasuk dari Qatar, ke sejumlah kampus ternama.

Ia menyebut beberapa nama universitas seperti Cornell, Georgetown, Texas A&M, Columbia, Harvard, dan Yale. Dalam wawancara tersebut, Dr. Small menyatakan bahwa sebagian dana asing itu tidak dilaporkan secara transparan sebagaimana diwajibkan oleh hukum Amerika Serikat. Ia juga mengklaim bahwa investigasi federal pernah menemukan miliaran dolar dana asing yang tidak terdokumentasi dengan baik.

Namun, penting bagi pembaca untuk memahami bahwa ini adalah klaim yang disampaikan dari perspektif Dr. Small dan lembaga penelitiannya. Isu seperti ini perlu dibaca dengan hati-hati, karena menyangkut lembaga besar, hubungan internasional, politik kampus, dan konflik Timur Tengah yang sangat kompleks.

Apa Hubungannya dengan Muslim Brotherhood?

Menurut Dr. Small, Qatar memiliki hubungan ideologis yang kuat dengan Muslim Brotherhood. Ia menggambarkan Muslim Brotherhood sebagai gerakan politik Islam yang lahir sekitar satu abad lalu di Mesir dan memiliki agenda ideologis jangka panjang.

Dalam pandangan Dr. Small, pengaruh Muslim Brotherhood tidak hanya bergerak melalui jalur politik langsung, tetapi juga melalui pendidikan, media, lembaga riset, organisasi mahasiswa, dan ruang publik. Ia menyebut konsep “soft power”, yaitu pengaruh yang tidak bekerja melalui kekuatan militer, tetapi melalui dana, pendidikan, budaya, media, dan jaringan intelektual.

Ia juga mengaitkan sejumlah organisasi kampus pro-Palestina di Amerika dengan jaringan atau pengaruh ideologis Muslim Brotherhood. Salah satu yang disebut adalah Students for Justice in Palestine atau SJP, yang menurutnya memiliki kedekatan ideologis dengan American Muslims for Palestine atau AMP.

Sekali lagi, ini adalah sudut pandang yang disampaikan dalam wawancara tersebut. Pembaca perlu membedakan antara fakta yang telah dibuktikan secara hukum, analisis akademik, dan penilaian politik atau ideologis dari narasumber.

Pendidikan Anak dan Kurikulum K–12

Bagian lain yang mendapat perhatian besar adalah klaim tentang pengaruh asing dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat. Dr. Small menyinggung sebuah program dari Brown University yang disebut Choices Program. Menurutnya, program tersebut digunakan di ribuan sekolah dan dituding menyajikan sejarah Timur Tengah secara tidak seimbang, termasuk dengan menghapus atau mengaburkan keberadaan Israel serta sejarah Yahudi dan Kristen di kawasan tersebut.

Bagi Dr. Small, ini lebih mengkhawatirkan daripada pengaruh di universitas, karena menyasar anak-anak sejak usia dini. Ia menilai bahwa jika anak-anak diperkenalkan pada sejarah yang tidak utuh, maka mereka dapat tumbuh dengan pemahaman yang berat sebelah terhadap Yahudi, Israel, dan konflik Timur Tengah.

Isu ini menunjukkan bahwa pertarungan narasi tidak hanya terjadi di ruang debat orang dewasa. Ia juga bisa masuk ke buku pelajaran, materi kelas, dan cara guru menjelaskan dunia kepada anak-anak.

Aliansi Kiri Radikal dan Islamisme

Dr. Small juga membahas apa yang ia sebut sebagai “red-green alliance”, yaitu pertemuan antara kelompok kiri radikal dan gerakan Islam politik. Menurutnya, dua kelompok ini sebenarnya berbeda jauh dalam banyak isu, seperti kebebasan perempuan, hak kelompok LGBTQ, sekularisme, dan demokrasi. Namun, keduanya dapat bertemu dalam kritik keras terhadap Barat, Amerika Serikat, kolonialisme, dan Israel.

Ia melihat bahwa sebagian kelompok kiri Barat memandang gerakan Islam politik sebagai bagian dari perlawanan terhadap hegemoni Barat. Di sisi lain, kelompok Islam politik juga menolak dominasi Barat, meskipun dengan dasar ideologi yang berbeda. Titik temu inilah yang menurut Dr. Small melahirkan aliansi taktis dalam isu Palestina dan Israel.

Bagi orang awam, bagian ini mungkin terasa rumit. Namun intinya adalah: dalam politik global, kelompok-kelompok yang berbeda ideologi bisa bekerja sama bila memiliki musuh atau sasaran kritik yang sama.

Antisemitisme dan Kritik terhadap Israel

Salah satu tantangan terbesar dalam membaca isu ini adalah membedakan antara kritik terhadap kebijakan Israel dan antisemitisme. Kritik terhadap kebijakan pemerintah Israel tentu sah dalam masyarakat demokratis. Banyak orang Yahudi sendiri juga mengkritik kebijakan Israel.

Namun, menurut Dr. Small, kritik berubah menjadi antisemitisme ketika Israel digambarkan sebagai kejahatan mutlak, ketika hak bangsa Yahudi untuk menentukan nasib sendiri ditolak, atau ketika kekerasan terhadap warga Yahudi dibenarkan atas nama perlawanan politik.

Di sinilah perdebatan menjadi sensitif. Bagi sebagian orang, kampanye pro-Palestina adalah bentuk pembelaan terhadap hak asasi manusia. Bagi pihak lain, sebagian narasi dalam gerakan tersebut sudah melampaui kritik politik dan masuk ke wilayah kebencian terhadap Yahudi.

Mengapa Artikel Ini Penting Dibaca?

Terlepas dari setuju atau tidak dengan seluruh pandangan Dr. Small, wawancara ini mengingatkan kita pada satu hal penting: gagasan tidak pernah netral sepenuhnya. Gagasan dapat membentuk opini publik, memengaruhi kebijakan, dan bahkan menggerakkan massa.

Dana, lembaga pendidikan, media, organisasi mahasiswa, dan kurikulum sekolah dapat menjadi saluran penyebaran pengaruh. Karena itu, masyarakat perlu lebih kritis dalam membaca narasi, baik narasi pro-Israel, pro-Palestina, pro-Barat, maupun anti-Barat.

Bagi pembaca Muslim, isu ini juga penting karena nama “Muslim Brotherhood” sering dikaitkan dengan Islam secara umum. Padahal dunia Islam sangat beragam. Tidak semua Muslim terkait dengan Muslim Brotherhood, tidak semua aktivis Palestina membawa agenda Islam politik, dan tidak semua kritik terhadap Israel berarti kebencian terhadap Yahudi. Generalisasi seperti itu justru bisa menimbulkan ketidakadilan baru.

Sebaliknya, umat Islam juga perlu berani mengkritik setiap bentuk kebencian, termasuk antisemitisme, sebagaimana juga harus menolak Islamofobia, rasisme, dan penindasan terhadap rakyat Palestina.

Penutup

Wawancara dengan Dr. Charles Asher Small membuka diskusi besar tentang hubungan antara dana asing, kampus, media, politik identitas, dan konflik Israel-Palestina. Ia mengajak publik untuk tidak hanya melihat gejala di permukaan, seperti demonstrasi kampus atau perdebatan media sosial, tetapi juga menelusuri sumber gagasan, jaringan pendanaan, dan kepentingan yang bekerja di baliknya.

Namun, pembaca tetap perlu bersikap adil dan kritis. Klaim-klaim besar harus diuji dengan data, bukti, dan sumber pembanding. Dalam dunia yang penuh propaganda, sikap terbaik bukanlah langsung percaya atau langsung menolak, melainkan membaca dengan jernih, memeriksa sumber, dan menjaga nurani kemanusiaan.

Karena pada akhirnya, baik antisemitisme maupun Islamofobia sama-sama berbahaya. Keduanya lahir dari ketakutan, prasangka, dan kegagalan melihat manusia sebagai manusia.

29 November 2025

Muslim Brotherhood: Tantangan Baru bagi Israel dan Eropa


Selama beberapa dekade, Muslim Brotherhood (Ikhwanul Muslimin) sering dipandang sebagai gerakan Islam politik yang moderat. Banyak pihak berharap organisasi ini bisa menjadi jembatan antara dunia Islam dan Barat. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Muslim Brotherhood bukan hanya kelompok dakwah, melainkan gerakan politik dengan tujuan besar: membentuk sistem pemerintahan berbasis ideologi Islam politik. Mereka bergerak secara perlahan, melalui pendidikan, organisasi masyarakat, hingga lobi politik. Strategi ini sering disebut sebagai “jihad peradaban” — bukan dengan senjata, melainkan dengan pengaruh sosial dan politik.

Dampak di Israel

Di Israel, ancaman terasa nyata karena Hamas merupakan cabang dari Muslim Brotherhood. Dukungan ideologis dari organisasi induk ini memberi legitimasi pada aksi-aksi kekerasan Hamas. Hal ini membuat Israel menilai Brotherhood sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional.

Dampak di Eropa

Di Eropa, pengaruhnya lebih halus namun tetap berbahaya. Jaringan Brotherhood berperan dalam membentuk masyarakat paralel, mendorong radikalisasi pemuda, serta menyuburkan ujaran kebencian dan antisemitisme. Beberapa negara seperti Prancis dan Austria mulai membatasi aktivitas organisasi yang terkait dengan Brotherhood, bahkan ada seruan agar gerakan ini ditetapkan sebagai organisasi teroris.

Pesan Penting

Ancaman yang dibicarakan bukanlah terhadap Islam sebagai agama, melainkan terhadap gerakan politik yang menggunakan demokrasi untuk tujuan anti-demokrasi. Korban pertama dari ideologi ini justru sering kali adalah kaum Muslim sendiri — perempuan, minoritas, dan mereka yang menolak politik Islam.

Sumber: Why the Muslim Brotherhood is a threat to Israel and Europe - JNS.org

07 November 2025

Wajah-Wajah Lain Ikhwanul Muslimin: Antara Dakwah, Politik, dan Tuduhan Ekstremisme

 Ikhwanul Muslimin (IM) adalah gerakan Islam transnasional yang berdiri sejak 1928 di Mesir. Dalam sejarahnya, IM telah berkembang menjadi jaringan global dengan cabang di berbagai negara. Namun, peran dan pendekatan masing-masing cabang sangat beragam—ada yang fokus pada dakwah dan pendidikan, ada pula yang terlibat dalam politik, bahkan dituduh mendukung kekerasan.

Sebuah laporan dari Foundation for Defense of Democracies (FDD) berjudul “Patient Extremism: The Many Faces of the Muslim Brotherhood” menyoroti dinamika IM di enam negara: Mesir, Yordania, Lebanon, Qatar, Sudan, dan Yaman. Berikut beberapa poin penting:

1. Mesir: Akar Gerakan dan Tuduhan Kekerasan

Sebagai tempat kelahiran IM, Mesir memiliki sejarah panjang hubungan naik-turun antara pemerintah dan IM. Setelah sempat berkuasa melalui Presiden Morsi (2012–2013), IM kembali ditekan dan dinyatakan ilegal. Pemerintah Mesir menuduh IM terlibat dalam kekerasan dan mendukung kelompok teroris, meskipun IM menyatakan komitmennya pada perjuangan damai.

2. Yordania: Dari Parlemen ke Penjara

Cabang IM di Yordania sempat meraih kemenangan politik melalui Partai Aksi Islam. Namun, pada 2025, pemerintah membubarkan organisasi ini dan menangkap anggotanya dengan tuduhan merencanakan aksi sabotase. IM membantah tuduhan tersebut dan menyatakan anggotanya bertindak atas dasar solidaritas terhadap Palestina.

3. Lebanon: Kerja Sama dengan Hamas dan Hizbullah

Di Lebanon, IM dikenal sebagai al-Jama’ah al-Islamiyah. Meski minoritas, mereka aktif dalam politik dan militer. Mereka menjalin hubungan erat dengan Hamas dan bahkan bertempur bersama Hizbullah melawan Israel dalam konflik 2023–2024.

4. Qatar: Patron Global

Qatar tidak memiliki cabang resmi IM, namun dikenal sebagai pendukung utama Hamas dan jaringan IM lainnya. Al Jazeera, media milik negara Qatar, sering dituding menyuarakan narasi pro-IM. Dukungan Qatar terhadap Hamas memicu ketegangan dengan negara-negara Teluk lainnya.

5. Sudan: Kembali ke Panggung Lewat Perang Saudara

Setelah kudeta militer 2021, kelompok Islamis termasuk IM kembali berpengaruh di Sudan. Mereka mendukung militer dalam perang saudara dan dituduh menerima bantuan dari Iran. Beberapa pemimpin IM di Sudan dikenai sanksi oleh AS dan Uni Eropa.

6. Yaman: Islah dan Warisan Zindani

Partai Islah di Yaman adalah kendaraan politik IM yang memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan. Beberapa tokohnya memiliki hubungan historis dengan al-Qaeda dan Hamas. Meski berada di pihak pemerintah, Islah dituduh berkolusi dengan kelompok Houthi dan mendukung serangan terhadap Israel.

Kesimpulan

Laporan ini menegaskan bahwa Ikhwanul Muslimin bukanlah entitas tunggal yang bisa diperlakukan dengan satu kebijakan. Setiap cabang memiliki konteks, strategi, dan dampak yang berbeda. Oleh karena itu, pendekatan terhadap IM harus disesuaikan dengan kondisi lokal dan bukti yang ada.

📚 Sumber: “Patient Extremism: The Many Faces of the Muslim Brotherhood,” Foundation for Defense of Democracies, 27 Oktober 2025. .

Muslim Brotherhood: Sejarah, Visi, dan Pengaruh Global

 Didirikan pada tahun 1928 oleh Hassan al-Banna di Mesir, Muslim Brotherhood (Ikhwanul Muslimin) lahir sebagai respons terhadap runtuhnya Kekhalifahan Ottoman dan sekularisasi yang dipimpin Mustafa Kemal Atatürk. Bagi al-Banna, hilangnya kekhalifahan adalah tragedi besar yang harus ditebus dengan membangun kembali tatanan Islam yang kuat dan menyeluruh.

Visi utama Brotherhood adalah mendirikan kembali kekhalifahan Islam yang lebih besar dan berpengaruh, berdasarkan prinsip bahwa Islam bukan hanya agama, tetapi juga sistem pemerintahan, identitas nasional, dan pedoman hidup. Mereka memandang dunia terbagi menjadi dua: Dar al-Islam (wilayah Islam) dan Dar al-Harb (wilayah perang), dengan misi memperluas pengaruh Islam ke seluruh dunia.

Organisasi ini tidak bersifat tunggal. Cabang-cabangnya di berbagai negara memiliki pendekatan berbeda. Beberapa, seperti Hamas, menggunakan kekerasan yang mereka sebut sebagai “perlawanan,” sementara lainnya memilih jalur non-kekerasan demi strategi, bukan prinsip. Namun, semua tetap berpegang pada keyakinan bahwa pemerintahan yang sah harus tunduk pada syariat Islam.

Pengaruh Brotherhood meluas ke berbagai tokoh dan negara. Osama bin Laden dan Ayman al-Zawahiri memiliki keterkaitan dengan Brotherhood di awal karier mereka. Bahkan pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menerjemahkan karya ideolog Brotherhood, Sayyid Qutb, ke dalam bahasa Persia sebelum Revolusi Islam 1979.

Negara-negara seperti Qatar dan Turki mendukung Brotherhood secara aktif. Media seperti Al Jazeera disebut menyebarkan propaganda Brotherhood dan bekerja sama dengan media Barat seperti BBC dan PBS. Di sisi lain, negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain telah menetapkan Brotherhood sebagai organisasi teroris.

Kini, ada dorongan dari sejumlah politisi Amerika Serikat untuk menetapkan Muslim Brotherhood sebagai organisasi teroris asing. Langkah ini mencerminkan perubahan persepsi global terhadap gerakan yang selama hampir satu abad dianggap sebagai organisasi sosial keagamaan biasa.

Muslim Brotherhood bukan sekadar sejarah. Ia adalah gerakan ideologis yang terus berkembang dan beradaptasi, dengan pengaruh yang menjangkau lintas negara dan generasi.

Sumber:

26 November 2024

Yahya Sinwar - Serikat Umum Pengacara Mesir

 

Republik Arab Mesir
Serikat Umum Pengacara
Tanggal: 19 Dzulqa’dah 1445 H – Kairo

Pernyataan dari Serikat Umum Pengacara: Mengenai Syahidnya Yahya Ayyash Sang “Insinyur”
Serikat menyampaikan belasungkawa mendalam kepada rakyat Palestina dan keluarga syahid.

Serikat Umum Pengacara, yang diwakili oleh Ketua Serikat, Prof. Ahmed Al-Maqri, menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada saudara-saudara Palestina, keluarga syahid, dan seluruh rakyat Palestina atas syahidnya Yahya Ayyash, seorang insinyur pejuang yang merupakan anggota perlawanan Palestina dan pemimpin dalam perjuangan untuk membebaskan tanah air serta melawan penjajah zionis.

Serikat menegaskan bahwa perjuangan dan pengorbanan rakyat Palestina, serta kesyahidan para pejuangnya, merupakan jalan untuk mencapai kebebasan dan hak menentukan nasib sendiri. Serikat menyerukan pentingnya mendukung penuh perjuangan Palestina dengan segala cara, baik material maupun moral, hingga Palestina mencapai kemerdekaan dan pendirian negara yang berdaulat dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.

Serikat mengutuk keras pembunuhan brutal dan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh penjajah zionis terhadap rakyat Palestina. Serikat juga menyerukan kepada komunitas internasional dan organisasi hak asasi manusia untuk memikul tanggung jawab mereka dengan menghentikan tindakan tersebut serta menuntut pertanggungjawaban para pelakunya.

Akhirnya, Serikat Umum Pengacara Mesir menegaskan kembali solidaritasnya terhadap perjuangan Palestina yang adil, sambil memohon kepada Allah agar rakyat Palestina diberikan kemenangan atas penjajah dan dikaruniai ketabahan serta kemenangan.

Ketua Serikat Umum Pengacara
Ahmed Al-Maqri

Sumber: (1) نقابة المحامين المصرية on X: "نقابة المحامين تنعي استشهاد يحيى السنوار.. وتتقدم بخالص العزاء إلى الشعب الفلسطيني وأسرة الشهيد https://t.co/xlaACmQZ8s" / X

20 Februari 2023

Explain the contribution of Muslim Brotherhood to the world - ChatGPT

 The Muslim Brotherhood is a religious and political movement that was founded in Egypt in 1928. Over the years, the organization has had a significant impact on the political, social, and religious landscape in the Middle East and beyond. Some of the contributions of the Muslim Brotherhood to the world include:

  1. Political activism: The Muslim Brotherhood has been involved in political activism and opposition to authoritarian regimes in the Middle East, advocating for democratic governance and social justice. The organization has been instrumental in the rise of political Islam and has influenced the development of other Islamist groups and parties in the region.

  2. Social welfare: The Muslim Brotherhood has also been involved in social welfare activities, such as providing assistance to the poor, setting up hospitals and schools, and organizing relief efforts during natural disasters. These activities have helped to improve the lives of many people in the Middle East and beyond.

  3. Islamic education and outreach: The Muslim Brotherhood has also played a significant role in Islamic education and outreach, including promoting Islamic values and providing religious education to individuals in the Middle East and beyond. This has helped to shape the religious and cultural landscape in many countries, particularly in the Arab world.

  4. Interfaith dialogue: The Muslim Brotherhood has also been involved in interfaith dialogue and has advocated for greater understanding and cooperation between Muslims and other religious groups. This has helped to foster greater tolerance and respect for diversity in many countries.

While the contributions of the Muslim Brotherhood have been significant, the organization has also been controversial, and its influence and impact have varied across different countries and contexts.