Dalam beberapa tahun terakhir, perdebatan tentang antisemitisme, gerakan pro-Palestina, pengaruh asing, dan kebebasan akademik di kampus-kampus Barat semakin menguat. Salah satu suara yang paling keras mengangkat isu ini adalah Dr. Charles Asher Small, pendiri Institute for the Study of Global Antisemitism and Policy atau ISGAP. Dalam sebuah wawancara bersama HonestReporting, Dr. Small menjelaskan hasil penelitiannya selama lebih dari dua dekade tentang dugaan aliran dana asing, terutama dari Qatar, ke lembaga-lembaga pendidikan di Amerika Serikat dan negara Barat lainnya.
Menurut Dr. Small, isu ini tidak dapat dipahami hanya sebagai konflik politik antara Israel dan Palestina. Ia melihatnya sebagai bagian dari pertarungan ideologi yang lebih luas, yaitu bagaimana gagasan tertentu masuk ke ruang akademik, membentuk cara berpikir mahasiswa, lalu menyebar ke masyarakat umum.
Dari Kampus ke Ruang Publik
Dr. Small berpendapat bahwa universitas bukan sekadar tempat belajar. Kampus adalah ruang pembentukan gagasan, nilai, dan cara pandang generasi muda. Apa yang diajarkan di ruang kuliah, menurutnya, dapat memengaruhi cara mahasiswa memahami sejarah, politik, identitas, dan konflik global.
Ia mencontohkan bagaimana gagasan yang awalnya berkembang dalam lingkungan akademik bisa turun ke masyarakat luas. Dalam sejarah Eropa, gagasan rasisme dan superioritas ras yang pernah diajarkan atau dibenarkan oleh sebagian kalangan akademik turut membentuk iklim intelektual yang kemudian memberi jalan bagi tragedi besar seperti Holocaust. Karena itu, menurut Dr. Small, gagasan yang beredar di kampus perlu diperhatikan dengan serius.
Dalam konteks saat ini, ia menilai bahwa sebagian narasi tentang Israel dan Yahudi di kampus Barat telah berubah menjadi sangat negatif. Israel sering digambarkan semata-mata sebagai negara kolonial, apartheid, atau penindas. Bila suatu bangsa terus-menerus digambarkan sebagai kejahatan moral, maka dukungan terhadap bangsa itu juga dapat ikut dianggap sebagai sesuatu yang harus dilawan.
Tuduhan Pengaruh Dana Qatar
Salah satu bagian paling menonjol dari wawancara ini adalah klaim Dr. Small tentang besarnya dana asing yang masuk ke universitas-universitas Amerika. Ia menyebut bahwa proyek “Follow the Money” yang dilakukan ISGAP menemukan dugaan dana tidak terdokumentasi dalam jumlah sangat besar, termasuk dari Qatar, ke sejumlah kampus ternama.
Ia menyebut beberapa nama universitas seperti Cornell, Georgetown, Texas A&M, Columbia, Harvard, dan Yale. Dalam wawancara tersebut, Dr. Small menyatakan bahwa sebagian dana asing itu tidak dilaporkan secara transparan sebagaimana diwajibkan oleh hukum Amerika Serikat. Ia juga mengklaim bahwa investigasi federal pernah menemukan miliaran dolar dana asing yang tidak terdokumentasi dengan baik.
Namun, penting bagi pembaca untuk memahami bahwa ini adalah klaim yang disampaikan dari perspektif Dr. Small dan lembaga penelitiannya. Isu seperti ini perlu dibaca dengan hati-hati, karena menyangkut lembaga besar, hubungan internasional, politik kampus, dan konflik Timur Tengah yang sangat kompleks.
Apa Hubungannya dengan Muslim Brotherhood?
Menurut Dr. Small, Qatar memiliki hubungan ideologis yang kuat dengan Muslim Brotherhood. Ia menggambarkan Muslim Brotherhood sebagai gerakan politik Islam yang lahir sekitar satu abad lalu di Mesir dan memiliki agenda ideologis jangka panjang.
Dalam pandangan Dr. Small, pengaruh Muslim Brotherhood tidak hanya bergerak melalui jalur politik langsung, tetapi juga melalui pendidikan, media, lembaga riset, organisasi mahasiswa, dan ruang publik. Ia menyebut konsep “soft power”, yaitu pengaruh yang tidak bekerja melalui kekuatan militer, tetapi melalui dana, pendidikan, budaya, media, dan jaringan intelektual.
Ia juga mengaitkan sejumlah organisasi kampus pro-Palestina di Amerika dengan jaringan atau pengaruh ideologis Muslim Brotherhood. Salah satu yang disebut adalah Students for Justice in Palestine atau SJP, yang menurutnya memiliki kedekatan ideologis dengan American Muslims for Palestine atau AMP.
Sekali lagi, ini adalah sudut pandang yang disampaikan dalam wawancara tersebut. Pembaca perlu membedakan antara fakta yang telah dibuktikan secara hukum, analisis akademik, dan penilaian politik atau ideologis dari narasumber.
Pendidikan Anak dan Kurikulum K–12
Bagian lain yang mendapat perhatian besar adalah klaim tentang pengaruh asing dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat. Dr. Small menyinggung sebuah program dari Brown University yang disebut Choices Program. Menurutnya, program tersebut digunakan di ribuan sekolah dan dituding menyajikan sejarah Timur Tengah secara tidak seimbang, termasuk dengan menghapus atau mengaburkan keberadaan Israel serta sejarah Yahudi dan Kristen di kawasan tersebut.
Bagi Dr. Small, ini lebih mengkhawatirkan daripada pengaruh di universitas, karena menyasar anak-anak sejak usia dini. Ia menilai bahwa jika anak-anak diperkenalkan pada sejarah yang tidak utuh, maka mereka dapat tumbuh dengan pemahaman yang berat sebelah terhadap Yahudi, Israel, dan konflik Timur Tengah.
Isu ini menunjukkan bahwa pertarungan narasi tidak hanya terjadi di ruang debat orang dewasa. Ia juga bisa masuk ke buku pelajaran, materi kelas, dan cara guru menjelaskan dunia kepada anak-anak.
Aliansi Kiri Radikal dan Islamisme
Dr. Small juga membahas apa yang ia sebut sebagai “red-green alliance”, yaitu pertemuan antara kelompok kiri radikal dan gerakan Islam politik. Menurutnya, dua kelompok ini sebenarnya berbeda jauh dalam banyak isu, seperti kebebasan perempuan, hak kelompok LGBTQ, sekularisme, dan demokrasi. Namun, keduanya dapat bertemu dalam kritik keras terhadap Barat, Amerika Serikat, kolonialisme, dan Israel.
Ia melihat bahwa sebagian kelompok kiri Barat memandang gerakan Islam politik sebagai bagian dari perlawanan terhadap hegemoni Barat. Di sisi lain, kelompok Islam politik juga menolak dominasi Barat, meskipun dengan dasar ideologi yang berbeda. Titik temu inilah yang menurut Dr. Small melahirkan aliansi taktis dalam isu Palestina dan Israel.
Bagi orang awam, bagian ini mungkin terasa rumit. Namun intinya adalah: dalam politik global, kelompok-kelompok yang berbeda ideologi bisa bekerja sama bila memiliki musuh atau sasaran kritik yang sama.
Antisemitisme dan Kritik terhadap Israel
Salah satu tantangan terbesar dalam membaca isu ini adalah membedakan antara kritik terhadap kebijakan Israel dan antisemitisme. Kritik terhadap kebijakan pemerintah Israel tentu sah dalam masyarakat demokratis. Banyak orang Yahudi sendiri juga mengkritik kebijakan Israel.
Namun, menurut Dr. Small, kritik berubah menjadi antisemitisme ketika Israel digambarkan sebagai kejahatan mutlak, ketika hak bangsa Yahudi untuk menentukan nasib sendiri ditolak, atau ketika kekerasan terhadap warga Yahudi dibenarkan atas nama perlawanan politik.
Di sinilah perdebatan menjadi sensitif. Bagi sebagian orang, kampanye pro-Palestina adalah bentuk pembelaan terhadap hak asasi manusia. Bagi pihak lain, sebagian narasi dalam gerakan tersebut sudah melampaui kritik politik dan masuk ke wilayah kebencian terhadap Yahudi.
Mengapa Artikel Ini Penting Dibaca?
Terlepas dari setuju atau tidak dengan seluruh pandangan Dr. Small, wawancara ini mengingatkan kita pada satu hal penting: gagasan tidak pernah netral sepenuhnya. Gagasan dapat membentuk opini publik, memengaruhi kebijakan, dan bahkan menggerakkan massa.
Dana, lembaga pendidikan, media, organisasi mahasiswa, dan kurikulum sekolah dapat menjadi saluran penyebaran pengaruh. Karena itu, masyarakat perlu lebih kritis dalam membaca narasi, baik narasi pro-Israel, pro-Palestina, pro-Barat, maupun anti-Barat.
Bagi pembaca Muslim, isu ini juga penting karena nama “Muslim Brotherhood” sering dikaitkan dengan Islam secara umum. Padahal dunia Islam sangat beragam. Tidak semua Muslim terkait dengan Muslim Brotherhood, tidak semua aktivis Palestina membawa agenda Islam politik, dan tidak semua kritik terhadap Israel berarti kebencian terhadap Yahudi. Generalisasi seperti itu justru bisa menimbulkan ketidakadilan baru.
Sebaliknya, umat Islam juga perlu berani mengkritik setiap bentuk kebencian, termasuk antisemitisme, sebagaimana juga harus menolak Islamofobia, rasisme, dan penindasan terhadap rakyat Palestina.
Penutup
Wawancara dengan Dr. Charles Asher Small membuka diskusi besar tentang hubungan antara dana asing, kampus, media, politik identitas, dan konflik Israel-Palestina. Ia mengajak publik untuk tidak hanya melihat gejala di permukaan, seperti demonstrasi kampus atau perdebatan media sosial, tetapi juga menelusuri sumber gagasan, jaringan pendanaan, dan kepentingan yang bekerja di baliknya.
Namun, pembaca tetap perlu bersikap adil dan kritis. Klaim-klaim besar harus diuji dengan data, bukti, dan sumber pembanding. Dalam dunia yang penuh propaganda, sikap terbaik bukanlah langsung percaya atau langsung menolak, melainkan membaca dengan jernih, memeriksa sumber, dan menjaga nurani kemanusiaan.
Karena pada akhirnya, baik antisemitisme maupun Islamofobia sama-sama berbahaya. Keduanya lahir dari ketakutan, prasangka, dan kegagalan melihat manusia sebagai manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar